Sabtu, 12 Maret 2011

BAG BAB V HAKIKAT IMAN (KITAB RAHASIA ILMU DALAM SIFAT KARYA ABDUL JABBAR HABIB BASUNI KARANGAN)

IMAN KEPADA TAKDIR
Manusia kata lainnya adalah"insane" adalah perbendaharaan karya yang terbaik diantara sekian banyaknya mahluk Allah, oleh sebab itu manusia disebut sebagai kesempurnaan ciptaan Allah pencipta yang paling baik.
Manusia diberikan segala macam bentuk bekal, sehingga menjadikan manusia itu mampu memimpin dunia ini atau menjadi khalifah dimuka bumi. Dan manusia inilah  yang dapat menjadikan dunia ini baik atau sebaliknya.
Akan tetapi, tidaklah Allah swt menjadikan manusia melainkan mampu Memimpin alam ini, dan itu merupakan takdir yang nyata. Bahwa Allah swt menjadikan manusia itu bersuku-suku dan berbangsaa-bangsa. Masing-masing suku dan bangsa itu terdiri dari peribadi-peribadi yang berbeda-beda kemampuan dan keahliannya. Ada yang memiliki tubuh yang kuat lagi perkasa, ada yang diberikan kemampuan dan ketajaman dalam berfikir, ada yang dianugerahkan kedudukan dan berkuasa, dan sebagainya. Betapa Allah itu sangat adil terhadap hamba-hambanya. Yaitu disebalik kelebihan pada pribadi manusia itu, ada pula kekurangannya. Dan apabila pribadi-pribadi itu bersatu padu dalam satu tujuan, maka akan menjadi suatu kekuatan yang sangat besar. Ibaratkan sebuah kerajaanm tidak akan berdiri dengan sempurna bila rajanya yang memiliki kekuasaan, tidak memiliki penasehat yang tajam dalam pemikiran. Tidak didampingi oleh panglima yang gagah perkasa, tidak pula didampingi oleh penghibur-penghibur yang menyenangkan hati, tidak didampingi oleh pribadi-pribadi yang handal dalam berkarya, bahkan tidak menjadi apa-apa bila tidak memiliki rakyat jelata yang lemah dan sebagainya. Alangkah indah tatanan yang dianugrahkan Allah swt itu, dan lebih indah lagi bila pribadi-pribadi itu dapat saling menghormati fungsi dan takdirnya masing-masing. Dan hanya manusialah yang mampu saling menghormati dan saling menghargai, sehingga pribadi-pribadi yang berbeda-beda itu menjadi suatu kekuatan yang utuh dan kokoh, arif dan bijaksana dalam memelihara ala mini secara keseluruhan.
Kenyataan bahwa Allah swt juga menciptakan mahluknya itu berpasang-pasangan, diciptakanlah bumi maka diciptakan pula labgit, diciptakanNya laki-laki maka diciptakan pula perempuan, diciptakanlah yang kuat maka diciptakan pula yang lemah, diciptakan siang maka diciptakan pula malam yang selalu mengikuti, demikianlah semua diciptakan berikut pasangannya yang mengikuti. Demikian juga diciptakan kebaikan maka ada keburukan yang selalu mengikutinya. Itulah tanda kebesaran dan keadilan Allah swt. Semenstinya kita sadar dan mensyukurinya.
Demikian pula halnya bahwa Allah swt telah menurunkan manusia kemuka bumi, sebagianya adalah sebagai musuh bagi sebagian yang lain, dan inilah takdir yang memperlihatkan bahwa keduanya itu juga merupakan pasangan. Disuatu sisi yaitu golongan yang memusuhi adalah terdiri dari pribadi-pribadi, dan disisi lain adalah golongan yang dimusuhi juga terdiri dari pribadi-pribadi. Dan tiap diri pribadi itu memiliki bekal takdir yang sama, yaitu memiliki kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan. Dan semuanya adalah pemimpin ala mini.bila ada yang baik, maka ada pula yang jahat. Inilah takdir dari Allah swt.
                Namun adaa sesuatu diantara keduanyam yaitu titik penyeimbang atau timbangan atau hakim yang menentukanm yaitu kebebasan untuk memilih salah satu diantara keduanya. Dan kesemuanya adalah baik. Dan ini adalah anugerah dari Allah yang menjadikan baik keduanya bagi pribadi-pribadi yang menilainya.
                Apabila ada segolongan orang atau pribadi-pribadi yang memilih golongan yang memusuhi, maka dia akan berhadapan dengan golongan yang dimusuhinya. Demikian juga sebaliknya, bila pribadi-pribadi itu memilih golongan yang dimusuhi, maka dia akan berhadapan dengan golongan yang memusuhi. Dan inilah hakekat takdir didunia ini, dan Allah memuji kedua-duanya. Allah swt itu memuji ciptaan-Nya.
                Setiap manusia memandang baik perbuatannya, peribadi yang satu mengakui sesuatu itu baik bagi dirinyam namun pribadi yang lain yang tidak mengakui hal itu akan mengatakan itu buruk. Sedangkan mereka bangga dengan golongan mereka masing-masing.itu juga takdir dari Allah swt.
                Inilah falsafah takdir Allah swt, dan manusia diperintah untuk menerima takdir itu dengan ikhlas, sehingga mampu menjadi pemimpinm atas golongan yang ia pilihm yaitu pribadi-pribadi yang mempunyai kelebihan-kelebihan dan kekurangan, atas segala sesuatu yang dipasang-pasangkan itu. Sesungguhnya Allah itu berkuasa atas segala sesuatu dan manusia adalah bagian dari kehendaknya. Dan Dialah yang berkuasa membolak-balik antara keduanya, memindah golongan yang satu kepada golongan yang lainnya. Dan tidak pula manusia itu berkuasa menolaknya. Dan Dialah Allah itu yang telah menciptakan surga dan menciptakan neraka sebagai pasangannyam sebagai tempat kembali bagi manusia dan manusia boleh saja memilih salah satu dari dua tempat kembali itu.  Namun Allah berkuasa atasnya dan tetap saja manusia itu harus menerima takdirnya yaitu, dan Allah berkuasa mengembalikan mereka ketempat yang mana karna itu adalah perkara akhir dan merupakan perkara ghaib yang hanya Allah yang mengetahuinya.
                Sudah pernahkah sampai berita kepada kita tentang "sibghoh", yaitu celupan?, manusia ini mencelup dirinya dengan celupan yang baik menurut pandangannya masing-masing. Namun Sibghoh Allah itulah yang terbaik. Apabila Allah menjadikan pribadi-pribadi itu adalah ahli surge, maka itulah yang terbaik bagi Allah. Dan apabila Allah menjadikan pribadi-pribadi itu adalah ahli neraka maka tidak ada seorangpun yang dapat menolaknyam dan ini juga baik bagi Allah swt. Betapa lisan Rasulullah adalah lisan terbaik dari seluruh manusia telah keluar kalimat tentang rahmat Allah dengan berat hati karena cintanya kepada umatnya. Yaitu"tidak ada amalan seoranga hamba yang dapat menjaminnya masuk kesurga, melainkan bila Allah merahmatinya". Kalimat ini keluar dari lisan hamba Allah yang kita sanjung, dan Allah juga menyanjungnya. Beliau Rasulullah adalah bukti sibghoh Allah swt pemimpin golongan yang dimusuhi. Beliau adalah pemimpin kita dan kita mencintainya.
                Ada pelajaran yang dapat kita tarik dari dari takdir Allah swt yang sudah terjadi pada diri kita, yaitu Allah swt telah menjadikan kita umat Muhammad Rasulullah saw, dan kita hany bisa menerima takdir itu dan inilah salah satu sibghoh. Sebab Allah swt telah menjadikan kita lahir dari rahim umat islam, sadar atau tidak sadar sesungguhnya takdir menjadi umat rasulullah saw sudah ditetapkan kepada kita. Namun Allah berkuasa membolak balikan keadaan, dan Dia berkuasa pula menentukan kejadian dan berkuasa pula menentukan akhir kesudahan. Dan kita baru diperjalanan diawal permulaan sibghoh menjadi umat Rasulullah saw, dan Allahlah yang menentukan akhir kesudahan kita.
                Rasulullah adalah golongan yang dimusuhim dan beliau tidak berbuat apa-apa terhadap golongan yang memusuhim beliau hanya mengikuti trakdir yang ditentukanm yaitu sebagai yang member peringatan dan kabar gembira bagi seluruh alamm dengan berbagai cara yang diperintahkan kepadanya. Beliau menempati maqam mengasihi seluruh mahluk ciptaan Allah kecuali yang dia dilarang untuk mengasihinya. Dan beliau juga tidak dibebani oleh dosa atas keburukan golonganya dan keburukan golongan yang memusuhinya. Dan Allah sudah memberikan petunjuk kepadanya yaitu berita bahwa bila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nyam maka itu mudah bagi Allah swtm dan Rasulullah tidak dibebani tanggung jawab atas kekafiran mereka melaIainkan sebagai hamba seperti merek  yang memberikan peringatan dan kabar gembira.
                Setiap ilmu mempunyai cabangnya. Ibarat pohon mempunyai batang dahan dan ranting. Setiap cabang dari ilmu itu pasti ada akhirnya. Tapi mana makna menuntut ilmu itu dari ayunan ibu hingga keliang lahad?, sementara aku mengatakan kajian ilmuku ini tamat?. Lalu Allah membisikan ilham kedalam hatiku, "Ilmu yang tiada putus itu adalah ilmu mengenal makna hidupmu". Sgala puji bagi Allah swt yang memiliki perbendaharaan ilmu yang tiada putus. Dan kita hanyalah berjalan sebagaimana perintah. Berjalan sebagaimana takdir yang ditetapkan, dan kita diperintahkan bersyukur.


Poskan Komentar