Sabtu, 12 Maret 2011

BAGIAN BAB III KARYA ILMIAH SIFAT DUA PULUH ILMU LADUNI TENTANG RAHASIA ILMU DALAM SIFAT


BAGIAN BAB III
KARYA ILMIAH SIFAT DUA PULUH ILMU LADUNI
TENTANG
RAHASIA ILMU DALAM SIFAT




KARYA ABDUL JABBAR HABIB BASUNI MEKKAH

TAHUN 1429 H
بسم الله الرحمن اللحيم

الســـــلا م عليكم ورحمـــة اللــــه وبركاتـه


            Segala puji hanya bagi Allah SWT, karena hanya kepada-Nyalah kita memuji. pujian kepada Zat-Nya, maupun pujian kepada segala ciptaan-Nya. Sesungguhnya kepada-Nya saja kita menyembah, dan memohon ampun serta perlindungan dari segala keburukan dan fitnah syaitan. Dialah Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Aku bersaksi bahwa tiada yang wajib disembah melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu Pesuruh Allah.
            Salawat serta salam terhatur kepada junjungan kita nabi Muhammad saw. Penutup sekalian Nabi. Pemberi peringatan dan kabar gembira, pembawa risalah kebenaran, dan mengembalikan manusia kepada agama keselamatan (Islam) yaitu agama Ibrahim yang lurus, yaitu mentauhidkan Allah SWT tanpa mensyarikatkan-Nya dengan segala sesuatu apapun.
Marilah kita meningkatkan takwa kita dengan sebenar-benarnya, dan janganlah kita mati melainkan dalam keadaan selamat. Wahai saudara-saudaraku laki-laki dan perempuan, marilah menyembah Allah saja, dan marilah perbaiki diri kita, amal-amal kita, dan ta'atlah kepada Allah saja dan Rasulnya. Sesungguhnya Allah itu maha suci dan Dialah yang maha Agung tempat bergantung segala yang agung.
Maha Suci Allah dari apa-apa yang disangkakan oleh manusia. Marilah kita sempurnakan agama kita dengan memperdalam ilmu tentang Tauhid. Jauhkan diri kita dari segala bentuk bid'ah, atau mengada-ngada dalam perkara ibadah kepada Allah. Sistem pendidikan agama Tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah memang sederhana namun sangat sempurna dan tidak berbelit-belit namun merupakan metode yang sangat sempurna. Mengapa kita harus persulit dengan banyak mereka-reka. Bukankah sejak kecil kita diajarkan bersyare'at, sholat, puasa, zakat dan diperkenalkan tentang Ketuhanan. Lalu diajarkan pula tentang kebaikan dan keburukan. Dan ilmu dasar ini tidak sama sekali kita inginkan saat itu. Melainkan kewajiban bagi orang tua kita saja untuk mengajarkannya. Setelah dewasa kita tdk kerepotan untuk mempraktekkannya. Peganglah ia dan kemudian perdalam maknanya. Baru kita akan mengetahiu hakekat sebenarnya, sehingga ibadah yang kita lakukan menjadi keyakinan yang lahir dari diri sendiri. Memperdalam adalah mencari kebenaran memastikan tentang ajaran itu adalah kebenaran atau suatu kekeliruan.  Oleh sebab itu perdalamlah sehingga kita berjalan dengan ilmu yang kita yakini sendiri kebenaranya sesuai Al-Qur'an dan Sunnah. (Dalil Akal dan Al-Qur'an).
Sebagian besar umat islam hanya berpegang kepada ajaran-ajaran islam yang beredar dimasyarakat. Tatacara peribadatan dan sebagainya, kebanyakan berdasarkan dalil ikut-ikutan. Coba perhatikan cara berwudlu' atau taharah. Rata-rata terpokus pada jumlah hitungan dan yang penting berwudlu' saja untuk melakukan sholat. Tapi sedikit sekali yang tahu bahwa bewudlu' merupakan syarat sahnya sholat. Banyak orang memperdebatkan tentang keadaan sholat. Akan tetapi jarang bahkan tidak ada yang mempermasalahkan tentang wudlu'. Artinya wudlu' itu disepelekan. Padahal wudlu' itu merupakan perintah utama dan mersti disempurnakan. Oleh sebab itu saya Abdul Jabbar Habib Mekah, merasa perlu menerangkan hal ini terutama kepada keluarga sendiri, rekan sekampung dan jema'ah serumpun, sebagai tambahan dasar berfikir dalam mendalami ilmu tentang penyempurnaan wulu' sebagai syarat sahnya sholat.
            Tulisan ini adalah bagian dari bab III  karya ilmiah saya mengenai sifat dua puluh ilmu laduni tentang "Rahasia Ilmu Dalam Sifat."
Mudah-mudahan Allah senantiasa membukakan kefahaman agama bagi kita semua sehingga kita berjalan pada syare'at islam yang sesungguhnya, dan tidak mengumber perdebatan kemana-mana dikarenakan adanya perbedaan mazhab dalam penetapan hukum berwudlu'. Dan kita dapat terhindar dari bahaya bid'ah yang menyesatkan, yang terlihat sebagai suatu petunjuk tentang syare'at, akan tetapi merupakan sarana menjauhkan ummat dari pemahaman ilmu yang sebenarnya. Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus. Amin
                                                                                                           




              Mekkah 1430 H                 
Penulis                         

Abdul Jabbar Habib Basuni         

 

BAB III
ILMU THARIQAH BERSUCI MENUJU KEPADA HAKIKAT SUCI

Setelah kita mempelajari dan mengetahui mengenai makna rukun sholat, bacaan-bacaan-bacaanya, gerakan-gerakannya, serta isi dan rahasia diri didalam sholat itu sendiri, maka kita juga harus memahami dan mengetahui cara merealisasikannya. Perhatikanlah Al-Qur'an surat Al-Mu'minun ayat satu dan dua yang berbunyi ; "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusu' dalam sholatnya,", Hal  ini  jelas
sekali tentang kedudukan khusu' itu. karena kekhusu'an itu adalah mata sholat. Adapun orang-orang yang belum sampai kepada tingakat khusu', maka sholatnya buta. Oleh sebab itu kita harus belajar dan berlatih untuk mencapai sholat secara khusu'.Hadits Rasulullah :
"Dua rakaat dari seorang alim yang hatinya zuhud lebih baik dan lebih disukai Allah daripada ibadahnya orang lain yang dilakukan hingga hari kiamat. Sebab ibadah tanpa ilmu tidak bernilai.”
Sebelum memasuki pembahasan ini, cobalah renungkan syair penulis dibawah ini,
Bila mata memandang kemuka, maka tak dapatlah memandang kebelakang
Bila mata menengadah kelangit, maka tak pula terpandang bawah
Umpama seseorang yang tertidur lelap lalu ia pergi mengembara menjelajah  alam
Matanya terpejam dan jasadnyapun tak berdaya.
Keindahan yang terlihat , bahagia didapat
Kerusuhan yang dirasa, tubuhpun meronta-ronta
Alangkah bahagia bila pandanganku ini menjadi tauhid
Kepada yang Maha indah lagi melimpahkan kasih sayang.
Dan itulah iman syari'at
Alangkah beruntung mereka yang telah suci dan dikasihi
Mereka yang tidak bisa memandang apa-apa.
Dan mereka berada disisi Tuhannya
       
Sya'ir ini dapatlah di pahamkan sebagai gambaran tentang pandangan khusyu', jasadnya terbaring, jiwanya menjelajag alam. Matanya terpejam, hatinya melihat Tuhannya. Dan yang sebenar-benar khusyu' itu adalah kekosongan rasa, tanpa harapan, tanpa hayalan, tanpa rupa dan warna yang dikenal, tanpa suara, hampa tanpa apa-apa. Tidak berharap kepada bahagia, tidak pula karena takut siksa.namun kekosongan rasa ini adalah akhir kekhusyu'an.jika ada ahir, pastilah ada awalan. Awalannya adalah rasa takut, kemudian menjadi ta'at, kemudian menjadi cinta. Setelah cinta dan dicintai, maka semua rasa baik takut, atau ta'at menjadi sirna. Sebab tiada kekhawatiran lagi dan tidak ada keraguan lagi. Sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada kekhawatiran didalam hati mereka.
Untuk memasuki gerbang khusyu',hendaklah sesuatu itu  difahami dengan sebenar-benarnya. Misalnya tujuan kita sholat itu apa? yaitu menghadap Allah, benar-benar ia berhadapan dengan Allah, atau Takut kepada Allah dan sebagainya. Bagaimana orang bisa mencapai tingkat Khusyu', sedangkan dia tidak tau akan tujuan perbuatannya. Tau bahwa sholat adalah menghadap dan berbicara kepada Allah, Akan tetapi tidak tau apa yang diucapkannya, dan tidak mengerti apa-apa, ilmunya belum nyampei, inilah yang disebut ibadah tanpa ilmu itu tidak bernilai. Oleh sebab itu, maka penulis merasa perlu menguraikan hal ini. 
Sebagai awalan Khusyu' secara syare'at adalah paling tidak kita mengerti bacaan-bacaan (mengerti makna yang kit abaca) dalam sholat itu, tau maksud dan gerakan sholat itu (mengapa kita melakukan takbir, dan seterusnya), dan yang harus jelas adalah tujuannya sholat itu (hakekat kita melakukan sholat). Misala seorang Arab melakukan sholat, memuji Allah, berdo'a, mereka mengerti dan faham apa yang diucapkannya sebagaimana kita menulis buat seseorang dengan bahasa kita sendiri, yaitu ungkapan yang lahir dari hati dan keinginannya sendiri. Oleh sebab itu kita juga harus mengerti seperti mereka. Nanti akan saya jelaskan Satu persatu berurutan dengan gerakan rukun sholatnya. Dan sebelumnya kita akan bahas ilmunya dulu.
Saudaraku yang menginginkan kebenaran dalam ilmu ma'rifat, bahasan ini adalah bahasan istimewa, Sebab masalah ini jarang sekali para ilmuan islam menerangkannya entah apa sebabnya,. Untuk mempermudah pemahaman, maka penulis  akan menguraikan masalah ini satu persatu.

بسم الله الرحمن الرحيم
   Semoga Allah memberikan bimbingan-Nya yang lurus kepada hati dan lidahku, dan menjagaku dari kekeliruan pemahaman agama, sesungguhnya Ibrahim adalah imamku, dan Nabi Muhammad itu adalah teladanku, dan aku tidak sekali-kali memperserikatkan Tuhanku dengan segala sesuatu apapun. Amin.

الذين يؤمنون باالغيب ويقيمون الصلاةوممارزقنهم ينفقون
"Yaitu orang-orang yang beriman dengan yang ghaib, dan menegakkan sholat dan mengeluarkan sebagian dari apa yang Kami rizkikan kepada mereka."  (Q.S: Al-Baqarah : 3) 

Sesungguhnya Sholat itu adalah Mi'raz, sebagaimana yang penulis sampaikan dimuka, dalil akalnya bahwa Nabi Muhammad saw mensyari'atkan sholat malam dan sholat duha. Yaitu sholat pada saat semua orang tertidur lelap, atau pada saat orang lain sedang hayal dengan aktifitas kehidupannya. Bahkan pahalanya sangat besar. Hal ini dikarenakan bahwa; pada saat seperti itulah kita mudah mendapatkan konsentrasi penuh (Khusyu'). Kemudian dikatakan pula bahwa do'a orang yang dizalimi itu makbulin. Lantaran saat dia berdo'a, tidak ada jarak antara dia dengan Tuhannya. Dan banyak lagi dalil-dalil yang lain yang dapat kita jadikan sebagai bahan dasar untuk berfikir (Tafakur) menetapkan keadaan sebenarnya tentang Khusyu' itu. Kemudian bagaimana bisa kita berjumpa dengan Allah, atau berbicara kepada-Nya, atau berinteraksi langsung, atau mengadukan permasalahan hati, atau meminta petunjuk tentang haluan hidup dan sebagainya, sementara kita tidak mempunyai ilmu tentang itu.
Sebagai kelanjutan dari pemahaman diatas, mari kita ambil salah satu dasar yang tepat  dan lebih dekat kepada pemahaman. Yaitu bahwa bersuci itu adalah syarat sahnya sholat, ini adalah dalil syari'at dan bahkan semua orang mengetahuinya. Saudaraku, Sesungguhnya Allah itu Zat yang maha suci, Bisa berjumpa dengan dia yang sebenarnya adalah orang yang suci pula, baik zahir dan bathin. Maka kesucian kita mesti didahulukan, baru layak kita bertemu dengan-Nya.  Oleh itu beruntunglah bagi orang-orang yang mensucikan diri. Yaitu suci dari segala najis baik jahir maupun batin. Dan penjelasannya adalah sebagai berikut :

A.  BERSUCI
Bersuci (Berwudlu), yaitu membersihkan diri segala kotoran (najis) baik jahir maupun batin. Caranya yaitu sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Untuk berjumpa kepada Allah 'Ajawazalla yang maha suci, maka kita juga mesti suci. Maka kedudukan ilmu bersuci ini sabgatlah penting untuk dipelajari. Sebab kesucian kita merupakan syarat sahnya sholat. Dan untuk kesempurnaan bersuci, kita uraikan saja dalam beberapa tahapan.
a. Dasar pemikiran
Sesungguhnya ibadah tanpa ilmu adalah sia-sia, dan kita diwajibkan untuk menuntut ilmu baik laki-laki maupun perempuan. Dan hendaklah hal ini difikirkan dan direnungkan lebih dalam, mudah-mudahan dengan ilmu thariqat bersuci ini, kita dapat merasakan nikmatnya sholat khusyu' (hakikat suci).
Saudaraku, Bermula dari tiada dijadikan Allah ada, kemudian lahir kedunia dalam keadaan fitrah, beberapa waktu kemudian menjadi manusia yang diwajibkan membersihkan dosa, sampai ajal menjemputnya, maka kembalilah ia keasalnya semula yaitu "tiada". Namun "tiada" yang kedua ini tidak akan sama dengan "tiada" pada kali yang pertama,  sebab kematian kita berbekal dosa ataupun pahala. Berupa memori-memori otak yang menciptakan rasa didalam jiwa kita. Bukankah sewaktu kita masih kecil itu, apabila mati akan mendapatkan surga ?, ya, disebabkan fikiran kita belum tersimpan kecintaan terhadap kehidupan dunia. Akal kita masih suci dari tipudaya-tipudaya nafsu serakah dan syahwat, Yang kita ambil dari dunia ini hanyalah sekedar yang kita butuhkan saat itu saja, ibarat burung yang keluar dari sangkar dengan perut kosong, kemudian pulang dengan perut kenyang, mereka tidak mengambil apa-apa dari dunia ini melainkan sesuatu yang sudah menjadi haknya. Yang kita tau saat kecil itu hanya main-main dan makan, kita menginginkan sesuatu dengan memohon kepada yang punya bahkan sambil menangis, sebab kita tau pemiliknya.  Setiap ada yang menyakiti kita, kita hanya benci atau takut kepada orang itu. Akan tetapi hati kita suci tanpa dendam maupun keinginan untuk membalasnya. Dan keberadaannya menjadi hiburan bagi orang lain. Dan yang jelas dalil alam ini berarti sekali sebagai bahan dasar ilmu pengenalan diri, dan pemahaman tentang hakikat suci bagi siapa saja yang mau berfikir. 
Siapakah yang paling kita sayangi saat itu ?, Siapakah yang paling kita takuti saat itu ?, siapakah yang paling mencintai kita saat itu?, jawabnya adalah Orang Tua kita, mengapa demikian ?, karena yang kita tahu merekalah yang memberi kita makan, mereka yang mengasuh kita, mereka yang menjaga dan melindungi kita dari bahaya. Allah mengatakan bahwa, Redho Allah ada pada Orang tua kita. Sebab itu kita tidak boleh durhaka kepada mereka. Akan tetapi setelah kita besar,dan nafsu syahwat mulai ada, otak kita sudah mulai diisi oleh keinginan yang banyak, maka fikiran dan akal kita mulai bekerja. kita mulai mengenal masa depan, kemudian angan-angan panjang membuat fikiran dan akal kita bekerja keras, untuk mempersiapkan bekal hari esok, sehingga kita lupa kenikmatan masa kecil, bahkan kita juga lupa dengan hak-hak orang lain, dan kita juga lupa siapakah yang memberikan semua kenikmatan kepada kita sekarang. Oleh itulah Allah Yang maha pengasih lagi maha penyayang, mula-mula memerintahkan untuk sholat saat akal dan fikiran kita mula-mula bekerja. mewajibkan mensucikan diri, memohon petunjuk dan perlindungan atas dosa-dosa yang sudah terjadi, atau dosa yang sedang kita lakukan, atau dosa yang belun kita lakukan. Mula-mula kita menerima nikmat Dari Allah melalui Orang tua kita, dan merekalah yang bertanggung jawab atas semua itu (halal atau haram yang diberikan).setelah akal kita berfungsi dan kita mampu mencari apa yang kita inginkan,maka kitalah yang bertanggung jawab atas rizki dan nikmat yang Allah berikan, semua akan dipertanyakan oleh sebab itu berhati-hatilah agar kembalimu dalam keadaan fitrah. maka sempurnakanlah wudlu', karena wudlu' yang sempurna adalah syahnya sholat. Lalu bagaimana caranya, oleh sebab itu kita memerlukan ilmunya. (Masalah asal mula kejadian manusia akan penulis bahas pada bahasan tersendiri). Tanyakanlah didalam diri kita bahwa Siapakah yang memberikan rizki kepada kita ?, Siapakah yang paling menyayangi kita ?, siapakah yang telah melindungi kita dan memberikan kita kekuatan ?, Lalu kenapa kita tidak mencintai, tidak bersyukur, dan tidak bertawakkal kepada yang memiliki semua itu. Yaitu Zat yang Maha Kaya yang Pengasih Dan Penyayang, Zaz yang Maha perkasa dan Berkuasa Atas segala sesuatu, Zat tempat Kita Mengadu. Dan Kepadanyalah kita akan Kembali. Berasal daripada suci, dan kembali kepada suci. Inilah tuntutan dari syari'at bersuci itu.
b. Tahapan ilmu dan pemahaman
Secara syare'at bersuci adalah dengan membasuh muka, kedua tangan hingga siku, sebagian rambut kepala, dan membasuh kaki hingga mata kaki (keterangan Al-Qur'an). Dan ini adalah mensucikan najis zahir saja yang menempel di permukaan kulit. Selebihnya adalah agar orang lain tidak merasa jijik dengan bau disebabkan najis tersebut. Akan tetapi rahasia pada semua perbuatan itu bahwa :kita melakukan sholat dengan khusyu', dan air Wudlu itu adalah element pendukung kekhusyu'an itu sendiri. Seperti bila kita ngantuk lalu muka kita tersentuh air, maka kita akan segar, demikian juga bila kita lelah berfikir lalu kepala kita tersentuh air maka fikiran kita akan tenang, demikian juga tangan dan kaki. Perumpamaan orang yang sholat lima waktu itu seperti orang yang mandi lima kali dalam sehari (al-Hadits). Mungkin dengan hadis ini ada yang membantah dengan kata-kata "kalau begitu lebih baik mandi saja lima kali sehari".Saudaraku, dengan wudlu' meskipun lima kali atau lebih dalam sehari, tidak menyebabkan mudarat seperti penyakit panas dalam dan sebagainya dan hal ini berbeda dengan mandi.
   Saudaraku yang beriman dan menginginkan kesucian zahir dan batin. Pemahaman bersuci ini amat luas sekali. Menyangkut pemahaman lahiriah dan pemahaman bathiniah akan tetapi maknanya satu yaitu mensucikan diri.
b.1.  Pensucian lahiriah
Adapun pensucian lahiriah itu seperti yang penulis ungkapkan diatas, akan tetapi itu hanya bentuk lahiriah yang nampaknya saja. Bagaimana dengan kotoran yang ada dalam perut, daging kita yang mengandung Nazis seperti makanan haram yang sudah menjadi darah, daging, tulang, kulit atau organ tubuh kita yang lainya. Itu semua adalah najis lahiriah yang tidak tampak. Apakah ini dapat kita sucikan dengan air atau tanah ?. tentulah tidak semudah itu. Silakan baca Al-Qur'an Surat Al-Ma'un ayat satu sampai tujuh. Bersegeralah kita tobatkan segala perbuatan kita yang terlanjur terjadi itu dengan sebenar-benar tobat, dengan e'tikat tobat atas dasar kecintaan kepada Allah semata. Mulailah mensucikannya sesuai dengan jenis nazisnya masing masing, Bahwa diantara rizki yang diberikan Allah kepada kita  itu ada hak orang lain yang bila kita memakannya akan menjadi Nazis bagi daging, darah, tulang, kulit sebagainya yang bersifat zahir yang bersangkut paut terhadap itu. Sucikanlah dengan banyak-banyak bersedekah dan beramal soleh, Demikian juga yang lainnya. Dan hal ini mesti kita kuatkan sebab kesucian diri kita zahir dan batin itu merupakan tubuh daripada sholat itu sendiri dan pelajarilah ilmu-ilmu syari'at yang berhubungan dengan pensucian lahiriah agar lebih mudah merealisasikan iman tobatnya.
b.2. Pensucian bathiniah
Secara garis besar kita sudah membicarakan najis lahiriah. Dan sekarang kita akan lebih dalam membicarakan najis bathiniah. Untuk masalah najis lahiriah, seraya kita menjalankan tobatnya, tetaplah lakukan sholat seperti biasa, karna Allah itu maha suci dan maha pengampun bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah itu mengampuni segala dosa kecuali dosa syirik. Dan dosa syirik inilah yang dinamakan Nazis batin. Bila najis bathin ini belum di sucikan, maka akan menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit hati. Seperti sombong, buruk sangka, iri, dengki, hasud, riya' atau sum'ah. Dan bila hal ini masih bersarang didalam diri kita, maka jauhlah kita dari rahmat berjumpa atau mi'raz kehadirat Allah SWT, atau dengan kata lain tidak akan mendapatkan sholat yang khusyu'. Sesungguhnya di dalam diri manusia itu ada segumpal darah,Yang apabila ia baik maka baik pula orangnya, Dan apabila ia rusak maka rusak pula orangnya. Dan segumpal darah itu ialah hati. (Al-Hadits).
Najis bathin inilah yang menjadi sasaran utama atau tujuan sebenarnya untuk kita sucikan. Sebab dengan sucinya hati dari najis tersebut akan menjadikan baik pula luarnya. Adapun masalah pensucian hati ini tidaklah semudah yang kita fikirkan. Butuh perjuangan yang sangat keras dan istiqomah mengingat akan musuhnya yang banyak, namun ini mutlak harus kita niatkan dan lakukan. (tentang pensucian hati silakan baca kitab-kitab ulama tentang itu. Dan saran penulis yaitu pelajari  Minhajul abidin karya Imam Al-Ghazali. Dan kitab ini menguraikan tahapan-tahapan dalam bertobat). Dan untuk sementara pada bab ini penulis fokuskan pembahasan lebih kepada praktek pengamalan ilmu thariqoh didalam syari'at sholat.
b.3. Pemahamn ilmu lahiriah dan bathiniah
Didalam tharikoh, sifat lahiriah itu dinamakan adam, sifat bathiniahnya (ilmu) dinamakan Muhammad, dan keyakinan kita atas kesucian itu dinamakan ketetapan Allah.Hakikat bersuci itu yaitu Adam bersuci, Muhammad mensucikan, Allah menerima suci. Hal ini penting sekali untuk diketahui dalam praktek bersuci. Untuk lebih jelasnya akan penulis jelaskan satu persatu.
1). Adam Bersuci, Adalah tubuh kasar kita yang tidak kekal, dan tubuh kita ini adalah kepalan tanah yang lembab dan yang kering yang menjadi daging, tulang belulang dan kulit, kemudian bersatu padu dengan proses membentuk satu bentuk yang dinamakan manusia yang mati (mayat). Banyak sekali ayat-ayat didalam Al-Qur'an yang menerangkan tentang asal kejadian manusia maka haruslah kita mempelajarinya. Dengan demikian bahwa syare'at bersuci adalah tubuh kita (adam) yang bersuci, oleh sebab itu wajib bagi kita membersihkan atau mensucikan zahir kita dengan syari'at (tatacara yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw) buanglah segala masalah hilafiah tentang itu, sebab dasar-dasar syari'at bersuci itu sudah jelas didalam Al-Qur'an surat Al-Ma'idah ayat 6 yaitu sebagai berikut :
"Wahai orang-orang yang beriman ! apabila kamu hendak melakukan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai kesiku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci) ; sapulah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak akan menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur".
2). Muhammad Mensucikan, Sesungguhnya Muhammad itu adalah nabi dan rasul, yaitu suri tauladan kita dalam segala hal. Bahwa dengan bertauladan kepada Nabi Muhammad itulah kita dapat panduan dalam bersuci. Dalam kata lain bahwa ajaran Muhammad itu yang mensucikan. Kemudian Muhammad itu juga adalah contoh dalam keyakinan dan tauhid sebagaimana sabda beliau " Ikutilah Aku dalam keyakinan", yaitu beliau bersuci dan meyakini kesuciannya. Dan hendaklah kita juga demikian, setelah kita sadar dan bertobat, dan menjalankan apa yang diajarkan Nabi Muhammad saw, semestinya kita juga meyakini apa yang kita lakukan itu. Hilangkanlah sifat ragu-ragu, karena sifat ragu-ragu itu merupakan bisikan setan laknatullah yang bernama was-wasakh, yang maqamnya juga didalam hati kita. Muhammad itu adalah Nur atau cahaya yang menjadi nyawa bagi kita. Nur Muhammad adalah diri kita ini yang bathin, yang sifatnya sangat suci. Didalam sejarahnya bahwa yang pertama diciptakan Allah swt adalah Nur Muhammad, dan Nur Muhammad ini menjadi cikal bakal adanya mahlik-Nya. dan didalam diri manusia itu ada yang dinamakan Nur Muhammad, dan Nur Muhammad itu adalah Zat Allah swt. Adapun orang-orang kafir dan munafik itu adalah mereka yang buta akan adanya nUr yang ada pada diri mereka, sehingga padamlah cahayanya. Oleh sebab itu mereka dinamakan kafir. Dan Nur Muhammad yang bercahaya itu adalah pada orang-orang yang mengikutinya, mengenalnya dan berusaha menghidupkannya. Dan orang-orang yang sholeh itu memiliki nur yang bercahaya yang sangat suci. Apabila Nur seseorang itu sudah hidup didalam jiwanya, maka orang itu akan menjadi arif dan bijaksana. Muhammad berarti sifat ilmu yang diajarkan baik zahir maupun bathin.
3). Allah Menerima Suci, Sesungguhnya Allah itu maha suci. Dan tidak akan sampai kepada-Nya melainkan segala sesuatu yang suci. Oleh sebab itu, untuk berjumpa atau berinteraksi, atau mi'raj kepada Allah, mestilah dalam keadaan suci, baik zahir maupun bathin. Yang paling utama adalah kesucian bathin. Bila bathin seseorang penuh dengan riya' ataupun sombong, maka sholatnya itu tidak ada paedahnya, melainkan mendapatkan faedah zahir saja seperti orang yang melakukan senam kesegaran jasmani lima kali sehari semalam. Padahal semua yang zahir itu akan musnah dan tidak kekal.


SELANJUTNYA ADALAH TAHAPAN PELAKSANAAN
Poskan Komentar